Fenomena perundungan (bullying) marak terjadi di sekolah-sekolah. Bentuk kejadian perundungan antarsiswa tersebut, tidak hanya secara verbal, bahkan juga bisa dengan kekerasan fisik. Salah satu faktor terjadinya perundungan adalah kurangnya pengertian terhadap bahayanya bullying.

Pentingnya pengertian tentang bahayanya perundungan itu, membuat SMK Muhammadiyah 1 Genteng mengadakan workshop penerapan sekolah bebas perundungan. Kegiatan ini diadakan pada tanggal 9 September 2022 di Aula SMK Muhammadiyah 1 Genteng dengan dihadiri oleh guru, karyawan serta perwakilan dari setiap kelas.

Adapun nara sumber yang diundang pada acara ini adalah Muhammad Reza S.Psi.M.Si Kandidat Doktor Teknologi Pendidikan yang juga dosen di UNESA serta Yulaika Ernawati S.P. selaku Analisis Kebijakan Ahli Muda. Keduanya diundang untuk memberikan pengarahan kepada siswa-siswa SMK Muhammadiyah 1 Genteng tentang sekolah bebas perundungan.

Reza, sapaan akrabnya, mendapat giliran pertama menyampaikan materinya. Ia menjelaskan bahwa betapa bahayanya perundungan, ia juga menunjukan sebuah lagu yang menceritakan tentang perundungan di sekolahan, judul lagunya yaitu “Dulu” yang diciptakan oleh Danar bedasarkan kisah aslinya ketika di sekolah dulu. “orang-orang yang dibully ngga semuanya orang kuat, bahkan ada yang sampai bunuh diri, sebegitu bahayanya bullying terhadap siswa-siswa” Ujar beliau.

Beliau melanjutkan dengan memberi pesan kepada orang-orang yang sering menjadi korban perundungan agar tidak terpuruk. Sebaliknya, menurut Reza, sebisa mungkin menjadikan bullyan orang lain itu sebagai motivasi untuk menjadi lebih baik. 

Berbeda dengan Reza, Bu Ika, sapaan akrab nara sumber kedua, menyampaikan tentang Program Roots. Program ini sendiri bertujuan untuk mekampanyekan Anti Perundungan. Selain itu, program yang lain adalah memusatkan Peserta didik sebagai Agen Perubahan. Siswa yang menjadi Agen Perubahan akan dipilih oleh siswa sendiri. “Untuk penerapan sekolah bebas perundungan dan saya harap kedepannya anak-anak agar terus melanjutkan kegiantan ini setiap tahun, agar seluruh warga sekolah paham… akan tentang perundungan dan untuk mencegah perundungan di sekolah SMK Muhammadiyah 1 Genteng” Ujar beliau.

Selanjutnya, perwakilan siswa yang telah terpilih akan diajarkan 10 modul wajib dan 5 Modul yang tidak wajib. Setelah program Roots berakhir akan di laksanakan Roots Day. Program Roots sudah dilaksanakan sejak tahun 2021 oleh USPK sebanyak 1.800 sekolah dan 3.600 guru. Tahun ini ada 5.000 sekolah, salah satunya SMK Muhammadiyah 1 Genteng.

Pesan Bu Ika untuk anak anak SMK Muhammadiyah 1 Genteng agar siswa-siswi gerak bersama mencegah dan mengatasi perundungan beserta menyebarkan kebaikan dan mengkampanyekan anti perundungan[]

Reporter: Catur Wahyu Bimantoro & Nasya Asriva Putri Artama

Editor: ITC SMK Muhi